Menjadi Guru Idola
Refrensi : Menjadi guru Idola
Cipt: Mohammad Maksum, S.Pd
Semoga bermanfaat!!!!
Salah
satu buku bacaan saya dengan judul “Menjadi guru Idola” karyanya Pak guru
Maksum. Buku yang terdiri atas delapan bab dengan gaya bahasa yang sederhana
dan mudah dipahami. Dalam buku ini, dimuat beberapa tips menjadi guru Idola.
Idola????? KBBI menyebutkan Idola adalah kata benda dengan arti orang, gambar,
patung, dan sebagainya yang menjadi pujaan. Nah sedangkan pujaan itu sendiri
mengandung arti sesuatu atau orang yang dipuja-puja. Jadi menjadi guru Idola
bagi seorang siswa itu tidak gampang. Tidak sedikit guru-guru yang dibenci oleh
siswanya, tidak sedikit juga guru yang menjadi korban kekerasan siswa, sebarapa
banyak guru yang menjadi idola??
Pak
Maksum memberi beberapa hal praktis yang dapat kita serap sebagai guru untuk
mendidik siswa/i, tidak hanya pengalaman praktisnya dalam mengajar namun
beberapa penyegaran diberikan agar sebagai guru paham bagaimana menjadi guru
Idola.
Langsung
saja pada intinya. Saya tertarik dengan salah satu bab yang akan menjadi refrensi penuh untuk saya menulis.
Pada bab V “APERSEPSI: setiap guru harus menguasai” menguasai apakah yang
dimaksudkan oleh Pak Guru Maksum? Menguasai kegiatan pembuka ketika mengajar
inilah yang disebut dengan Apersepsi. Apersepsi berasal dari kata “Apperception” berarti menyatupadukan dan
mengasimilasikan suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki.
Apersepsi juga merupakan penghayatan tentang segala sesuatu yang menjadi dasar
untuk menerima ide-ide baru. Jadi apersepsi mempunyai tujuan untuk mengaitkan
pengetahuan dasar siswa dengan pengetahuan baru yang akan siswa dapatkan dalam
pelajaran. nah salah satu hal yang guru pahami bahwa setiap siswa mempunyai
pengetahuan yang berbeda-beda, tidak semua siswa sama. Tujuan guru melakukan
apersepsi yaitu :
1. Mencoba menarik mereka ke dunia
yang kita ciptakan maksudnya yaitu menyadarkan siswa bahwa materi yang akan
diperlajari memiliki relevansi dengan materi yang telah dipelajari
2. Mencoba menyatukan dua dunia,
memang benar materi yang baru dan materi yang telah dipelajari memiliki perbedaan
namun, terdapat metri-materi tertentu yang memiliki relevansi, naah ini
merupakan pekerjaan guru untuk mampu mengaitkan dua materi tersebut.
3. Menciptakan atsmofir, artinya
bahwa guru perlu mempersiapkan kondisi fisik dan psikis siswa dimana siswa akan
siap untuk menikmati pelajaran hari ini. Jika siswa dalam kondisi tidak siap
maka sebagus apapun desain pembelajaran yang dibuat guru akan sulit dicerna
oleh siswa
4. Perlunya membangun motivasi. Untuk
motivasi tentunya semua guru paham bagaimana membangun motivasi yang baik
terhadap siswa di sekolah. Motivasi pada tahap ini masih pada batas apersepsi. Bagaimana
guru memberi penguatan tertentu terhadap pengetahuan awal siswa dan pengetahuan
baru yang akan dipelajarinya.
Selanjutnya
bagian dibawah ini yang perlu untuk kita pelajari bersama karena banyak guru
tidak paham akan bagaimana caranya kita membentuk apersepsi yang maksimal. Apersepsi
dapat dibentuk melalui 4 pilar. Namun pada tulisan ini akan dibahas Pilar
pertama sedangkan pilar kedua samai keempat akan dibahas pada tulisan
berikutnya.
1.
Alfa Zone
Richard Caon, seorang dokter asal Inggris,
menyatakan adanya muatan listrik dalam kuat otak. Zona alfa adalah salah satu
gelombang otak. Pada tahun 1924 Hans Berger seorang ahli saraf dari Jerman berhasil
mencetak gelombang otak ini di atas selembar kertas. Penemuan gelombang otak
ini terus berkembang. Gelombang otak tersebut antara lain :
a.
Gelombang
Delta (0,5-3,5 Hz)
Gelombang ini
terjadi pada saat kita berada pada kondisi tidur tanpa mimpi. Selama tidur,
otak tetap bekerja namun guru tidak bisa memberi pelajaran pada kondisi ini
karena guru tidak mungkin mengajar pada siswa yang terlelap tidur
b.
Gelombang
Teta (3,7-7 Hz)
Kondisi ini
berada pada saat kita tidur dan bermimpi, meditasi atau pada saat kita melamun.
Pada saat ini otak kita menyortir hal-hal yang kita alami sepanjang hari. Sesuatu
yang dialami sepanjang hari jika diulang-ulang maka akan berpindah pada memori
jangka panjang otak kita, nah ini merupakan kondisi dimana guru sulit memberi
pelajaran. Dalam kondisi Teta kita cenderung mengeluarkan sesuatu sedangkan
proses belajar merupakan proses seseorang memasukan dan mengeluarkan informasi.
c.
Gelombang
Alfa (7-13 Hz)
Kondisi
inilah yang paling baik untuk proses belajar mengajar. Hal ini dikarenakan pada
kondisi ini neuron sedang berada dalam suatu harmoni. Zona ini adalah zona
terbaik untuk siswa belajar.
d.
Gelombang
Beta (13-25 Hz)
Kondisi ini
terjadi pada saat kita marah, stres, bingung dan pusing ketika berada dalam
kenyataan hidup sehari-hari.
Dari penjelasan di atas zona alfa
adalah kondisi terbaik untuk siswa, guru perlu melihat dengan jeli ketika
mengajar. Mendapati siswa yang sedang berbicara dengan teman, yang sedang tidur
pada saat pembelajaran berlangsung, melamun, dll maka perlu untuk guru
menghentikan pembelajaran sejenak. Kemablikan kondisi itu pada kondisi Alfa
jadi tanda siswa telah masuk dalam kondisi alfa yaitu jika hati siswa senang, ditandai
dengan rona wajah yang ceria, tersenyum, bahkan tertawa. Nah yang sekarang kita
sebagai guru pikirkan bagaimana caranya membuat siswa kembali pada gelombang
atau zona Alfa?
a.
Fun story, guru bisa membuat cerita lucu,
gambar lucu, teka-teki yang berasal dari pengalaman pribadi dll.fun story ini
dapat mengurangi resiko stres pada siswa.
b.
Ice breaking, ice breaking yang dilakukan
oleh guru harus diperhatikan. Maksudnya adalah ice breaking jangan sampai
memakan waktu stengah jam. Syaratnya adalah :
-
Dilakukan
dalam waktu singkat
-
Diikuti
oleh semua siswa
-
Guru
perlu menjelaskan secara singkat ice breaking tersebut
c.
Musik, musik dapat meningkatkan
serotonin dalam otak, musik dapat mengaiktifkan holistic-brain (duet otak kanan
dan kiri).
d. Brain
Gym, dilakukan
untuk meningkatkan fungsi oak kiri dan otak kanan. Bisa dilakukan dengan
gerakan tangan, kaki, badan dll.
Tidak
perlu semua ada, salah satu saja. Mengingat pentingnya kondisi Alfa. Kondisi ini
tidak hanya berlaku pada awal pembelajaran melainkan juga pada inti pelajaran
oleh karena itu guru perlu mengembalikan perhatian siswa tersebut.
Anita Pa Padja








